Investasi5 menit baca

Analisis Saham Buat Pemula: Biar Nggak Salah Pilih!

Bingung pilih saham yang bagus? Yuk, belajar cara analisis saham buat pemula biar nggak salah pilih dan investasimu makin cuan!

Analisis Saham Buat Pemula: Biar Nggak Salah Pilih!

Analisis Saham Buat Pemula: Biar Nggak Salah Pilih!

Kenapa Sih, Mesti Analisis Saham Dulu?

Eh, bentar, jangan keburu nafsu pencet tombol ‘buy’ dulu, dong! Ibarat mau PDKT sama gebetan, kan, perlu riset dulu. Sama kayak saham, kita perlu kenalan lebih dalam sama ‘calon’ perusahaan yang mau kita ‘pacarin’ alias invest di sana. Analisis saham itu penting banget biar kita nggak terjebak sama saham ‘bodong’ atau yang harganya lagi digoreng. Intinya, biar investasi kita nggak berujung merugi.

Analisis saham itu ada dua ‘aliran’ utama: fundamental dan teknikal. Yuk, kita bedah satu-satu!

Aliran Pertama: Analisis Fundamental, Kenalan Sama ‘Daleman’ Perusahaan

Analisis fundamental itu kayak kita lagi nge-stalk gebetan. Kita cari tahu semua tentang dia, mulai dari keluarganya, pendidikannya, sampai kebiasaan-kebiasaannya. Nah, kalau di saham, kita ‘nge-stalk’ kesehatan finansial perusahaannya. Caranya gimana? Lewat laporan keuangan!

1. Cek Laporan Keuangan, Jangan Malas Baca!

Laporan keuangan itu ‘rapor’-nya perusahaan. Ada tiga bagian penting yang perlu kamu kepoin:

  • Laporan Laba Rugi: Di sini kita bisa lihat perusahaan itu untung atau rugi. Coba deh, bandingin laba perusahaan dari tahun ke tahun. Kalau labanya terus bertumbuh, itu pertanda bagus!
  • Neraca Keuangan: Ini isinya ‘harta’ dan ‘utang’ perusahaan. Pastiin utangnya nggak lebih besar dari hartanya, ya. Kalau utangnya kebanyakan, bisa-bisa perusahaan bangkrut!
  • Arus Kas: Ini nunjukkin duit yang masuk dan keluar dari perusahaan. Pastiin arus kas dari kegiatan operasionalnya positif, ya. Artinya, perusahaan bisa menghasilkan duit dari bisnis utamanya.

2. Intip Prospek Bisnisnya, Masa Depannya Cerah Nggak?

Selain ‘rapor’-nya, kita juga perlu tahu masa depan perusahaan ini gimana. Coba deh, cari tahu:

  • Industrinya lagi ngetren nggak? Misalnya, perusahaan teknologi atau energi terbarukan lagi banyak dicari, nih.
  • Pesaingnya siapa aja? Kalau pesaingnya banyak dan ketat, perusahaan butuh usaha ekstra buat bertahan.
  • Manajemennya oke nggak? Coba cari tahu rekam jejak direksi dan komisarisnya. Kalau mereka punya reputasi bagus, kemungkinan besar perusahaan juga dikelola dengan baik.

3. Valuasi Saham, Murah atau Mahal?

Setelah yakin sama ‘daleman’ dan prospek perusahaan, saatnya kita lihat harganya. Jangan sampai kita beli saham bagus tapi harganya kemahalan. Ada beberapa rasio yang bisa kita pakai buat ‘nawar’ harga saham:

  • Price to Earning Ratio (PER): Rasio ini ngebandingin harga saham sama laba per saham. Makin kecil PER-nya, makin ‘murah’ harga sahamnya.
  • Price to Book Value (PBV): Rasio ini ngebandingin harga saham sama nilai buku per saham. Kalau PBV di bawah 1, artinya harga sahamnya lebih murah dari nilai aset bersihnya.

Aliran Kedua: Analisis Teknikal, Baca ‘Mood’ Pasar

Kalau analisis fundamental fokus ke ‘daleman’ perusahaan, analisis teknikal lebih fokus ke pergerakan harga saham di pasar. Ibaratnya, kita lagi nebak-nebak ‘mood’ pasar, lagi seneng atau sedih. Caranya gimana? Lewat grafik harga saham!

1. Lihat Tren Harganya, Lagi Naik atau Turun?

Coba deh, perhatiin grafik harga sahamnya. Lagi nanjak (uptrend), landai (sideways), atau malah longsor (downtrend)? Kalau lagi uptrend, ini kesempatan bagus buat ‘nebeng’ naik. Tapi kalau lagi downtrend, mendingan jangan coba-toba, deh.

2. Cari ‘Support’ dan ‘Resistance’, Lantai dan Atap Harga

‘Support’ itu batas bawah harga saham, sedangkan ‘resistance’ itu batas atasnya. Kalau harga saham mantul di ‘support’, itu pertanda bagus buat beli. Sebaliknya, kalau harga saham mentok di ‘resistance’, itu pertanda bagus buat jual.

3. Manfaatin Indikator, Biar Makin Yakin

Ada banyak ‘alat bantu’ alias indikator yang bisa kita pakai buat analisis teknikal. Beberapa yang populer di antaranya:

  • Moving Average (MA): Garis ini nunjukkin harga rata-rata saham dalam periode tertentu. Kalau harga saham di atas MA, artinya lagi uptrend. Sebaliknya, kalau di bawah MA, artinya lagi downtrend.
  • Relative Strength Index (RSI): Indikator ini ngukur ‘kejenuhan’ pasar. Kalau RSI di atas 70, artinya pasar udah ‘jenuh beli’ (overbought) dan harga saham berpotensi turun. Sebaliknya, kalau RSI di bawah 30, artinya pasar udah ‘jenuh jual’ (oversold) dan harga saham berpotensi naik.

Jadi, Pilih Aliran Mana?

Dua-duanya penting, kok! Analisis fundamental bantu kita milih perusahaan yang ‘sehat’, sedangkan analisis teknikal bantu kita nentuin waktu yang pas buat beli atau jual saham. Jadi, jangan cuma ikut-ikutan temen, ya. Mulai sekarang, coba deh, analisis saham sendiri. Selamat mencoba!

Ada pertanyaan soal artikel ini?

Tanya langsung ke CuanBot, mentor finansial kamu!