Nahan Dulu, Seneng Kemudian: Jurus Jitu Anak Muda Biar Nggak Bokek di Akhir Bulan
Baru gajian tapi dompet udah tipis? Mungkin kamu terjebak kesenangan sesaat. Yuk, pelajari jurus 'nahan dulu, seneng kemudian' biar keuanganmu aman dan tujuanmu tercapai!
Baru gajian tapi dompet udah tipis? Mungkin kamu terjebak kesenangan sesaat. Yuk, pelajari jurus 'nahan dulu, seneng kemudian' biar keuanganmu aman dan tujuanmu tercapai!
Gajian Kelihatan, Hilangnya Cepet Banget: Kamu Ngerasain Juga?
Coba deh inget-inget, berapa kali kamu ngerasa kayak gini: awal bulan dapet notifikasi transferan gaji, rasanya jadi sultan sehari. Langsung deh checkout keranjang belanjaan, nongkrong di kafe paling hits, atau beli skin game terbaru. Tapi, baru juga pertengahan bulan, kok saldo di rekening udah nyisa buat ongkos doang? Dompet yang tadinya tebel, sekarang isinya cuma struk belanjaan.
Kalau kamu sering ngalamin ini, tenang, kamu nggak sendirian. Banyak banget anak muda di luar sana yang punya masalah sama. Kita hidup di zaman di mana semua serba instan dan godaan ada di setiap sudut. Buka Instagram, ada racun fashion terbaru. Buka TikTok, ada video makanan yang bikin ngiler. Belum lagi ajakan teman buat hangout setiap akhir pekan. Rasanya, susah banget buat bilang ‘nggak’.
Nah, di sinilah konsep delayed gratification atau ‘nahan dulu, seneng kemudian’ jadi jurus andalan yang wajib kamu kuasai. Ini bukan soal hidup sengsara dan pelit sama diri sendiri, tapi soal jadi lebih bijak dalam mengelola keinginan demi kebahagiaan yang lebih besar dan lebih awet di masa depan.
Apa Sih Sebenarnya Delayed Gratification Itu?
Secara simpel, delayed gratification adalah kemampuan buat menolak godaan untuk mendapatkan kepuasan instan demi mendapatkan imbalan yang lebih baik nanti. Ini adalah pertarungan antara kesenangan jangka pendek versus keuntungan jangka panjang.
Masih inget ‘Tes Marshmallow’ yang legendaris itu? Eksperimen ini dilakukan sama psikolog Walter Mischel di tahun 1970-an. Anak-anak dikasih satu marshmallow dan dibilangin, kalau mereka bisa nahan diri buat nggak makan marshmallow itu selama 15 menit, mereka bakal dapet satu lagi. Hasilnya? Anak-anak yang berhasil menahan diri ternyata tumbuh jadi orang yang lebih sukses dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari akademis, kesehatan, sampai keuangan.
Ini nunjukkin kalau kemampuan menunda kesenangan itu bukan cuma soal duit, tapi juga soal self-control yang jadi fondasi kesuksesan. Kalau kamu bisa ngalahin keinginan buat jajan kopi kekinian setiap hari, kemungkinan besar kamu juga bisa lebih disiplin dalam hal lain, kayak olahraga rutin atau belajar skill baru.
Contoh Nyata Delayed Gratification dalam Kehidupan Anak Muda
Biar lebih gampang dicerna, ini dia beberapa contoh nyata penerapan delayed gratification yang super relevan buat kita:
- Dunia Per-Skincare-an: Alih-alih gonta-ganti produk setiap ada yang viral (dan akhirnya malah bikin breakout), kamu sabar pakai satu rangkaian produk yang emang cocok selama berbulan-bulan buat dapetin kulit sehat dan glowing impian.
- Nonton Konser Idola: Daripada maksain beli tiket konser pakai pinjol atau duit tabungan darurat, kamu rela nabung sedikit demi sedikit dari jauh-jauh hari. Pas hari-H, kamu bisa nonton dengan tenang tanpa pusing mikirin utang.
- Membangun Karier: Kamu rela ngambil kerjaan dengan gaji yang mungkin belum seberapa tapi punya jenjang karier dan kesempatan belajar yang bagus. Kamu tahu, pengalaman dan skill yang kamu dapet sekarang bakal jadi investasi berharga buat masa depan kariermu.
- Investasi Saham vs. Foya-foya: Setiap dapet gaji, kamu nggak langsung habisin buat barang-barang branded. Kamu sisihin sebagian buat diinvestasikan di saham atau reksa dana. Kamu paham, uang yang kamu ‘tanam’ sekarang bakal tumbuh dan berbuah manis di kemudian hari.
Jurus Jitu Melatih Otot Delayed Gratification*
Nglatih kemampuan ini emang tricky, tapi bukan berarti nggak mungkin. Anggap aja kayak lagi nge-gym, tapi yang dilatih adalah otot kesabaran dan self-control. Ini dia beberapa ‘alat’ yang bisa kamu pakai:
- Punya ‘Why’ yang Kuat: Apa sih yang pengen banget kamu capai? Beli rumah pertama sebelum umur 30? Lanjut S2 di luar negeri? Punya dana pensiun yang cukup buat keliling dunia? Tulis tujuan-tujuan itu gede-gede dan tempel di tempat yang sering kamu lihat. Ini bakal jadi pengingat ampuh setiap kali godaan datang.
- Metode ‘Amplop’ atau Sinking Funds: Pisahin uangmu ke dalam beberapa ‘pos’ sesuai tujuannya. Bisa pakai amplop fisik, rekening bank yang berbeda, atau fitur di aplikasi bank digital. Misalnya, ada amplop buat ‘Dana Konser’, ‘Dana Liburan’, ‘Dana Gadget Baru’. Dengan begini, kamu jadi lebih disiplin dan nggak akan ‘mencuri’ uang dari satu pos ke pos lain.
- Aturan 24 Jam: Setiap kali kamu pengen beli sesuatu yang nggak ada di bujet, kasih jeda waktu 24 jam. Biasanya, setelah sehari, keinginan impulsif itu bakal mereda. Kalau setelah 24 jam kamu masih ngerasa butuh banget barang itu, baru deh pertimbangin lagi.
- Cari Lingkaran Pertemanan yang Mendukung: Kalau teman-temanmu isinya cuma orang-orang yang hobi foya-foya, bakal susah banget buat ngerem. Coba deh, cari teman atau komunitas yang punya visi keuangan yang sama. Kalian bisa saling sharing tips dan ngasih semangat.
- Rayakan Kemenangan Kecil: Berhasil nahan diri buat nggak jajan boba seminggu penuh? Keren! Kasih apresiasi buat dirimu sendiri, misalnya dengan nonton film di rumah sambil maskeran. Ini penting buat menjaga motivasi tetap membara.
Kisah Si Hemat vs. Si Paling Update
Mari kita lihat kisah fiktif antara Maya dan Dito, dua sahabat yang baru mulai kerja.
Maya adalah si paling update. Setiap ada gadget baru rilis, dia langsung ganti. Setiap ada tren fashion, dia pasti punya. Dia nggak mau ketinggalan zaman. Hasilnya? Gajinya selalu habis bahkan sebelum pertengahan bulan, dan dia mulai terjerat cicilan kartu kredit.
Sementara itu, Dito lebih santai. Dia masih pakai smartphone yang sama dari zaman kuliah, tapi masih berfungsi dengan baik. Uang yang seharusnya bisa dia pakai buat ganti HP, dia alihkan buat ikut kursus digital marketing dan mulai investasi di reksa dana. Tiga tahun kemudian, Maya masih pusing dengan cicilannya, sementara Dito berhasil dapet promosi di kantornya berkat skill barunya, dan portofolio investasinya pun terus bertumbuh.
Kisah ini bukan buat nge-judge Maya, tapi buat nunjukkin dampak nyata dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari. Delayed gratification bukan berarti anti gaya hidup modern, tapi tentang memilih prioritas yang benar-benar penting buat masa depan kita.
Mulai dari Sekarang, Bukan Nanti
Menunda kesenangan itu bukan berarti hidupmu jadi nggak seru. Justru, kamu lagi merancang keseruan yang lebih besar dan lebih memuaskan di masa depan. Kamu lagi berinvestasi pada dirimu sendiri.
Jadi, lain kali kalau kamu tergoda buat beli sesuatu secara impulsif, coba tarik napas dan tanya sama diri sendiri: “Apakah ini ‘kebutuhan’ atau cuma ‘keinginan’ sesaat? Apakah ini bakal bikin aku lebih deket sama tujuanku?”
Memang butuh latihan dan kesabaran, tapi percayalah, saat kamu berhasil mencapai tujuan besar yang udah kamu impikan sejak lama, rasanya bakal jauh lebih nikmat daripada kesenangan sesaat mana pun. Siap buat jadi master delayed gratification?
Ada pertanyaan soal artikel ini?
Tanya langsung ke CuanBot, mentor finansial kamu!