Kesalahan Anak Muda5 menit baca

Yakin Investor, Bukan Spekulan? Bongkar Bahaya Ikut-ikutan Tren Investasi

Lagi hobi scroll pameran portofolio ijo di medsos? Keren sih, tapi yakin kamu beneran investor atau cuma ikut-ikutan tren biar nggak ketinggalan? Yuk, kita bedah tuntas bahayanya investasi latah dan gimana caranya biar nggak jadi korban FOMO.

Yakin Investor, Bukan Spekulan? Bongkar Bahaya Ikut-ikutan Tren Investasi

Lo Yakin Udah Siap Investasi Apa Cuma Ikut-ikutan Tren?

Zaman sekarang, kayaknya keren banget ya kalau ngomongin soal investasi. Di tongkrongan, di media sosial, di mana-mana ada aja yang pamer portofolio ijo royo-royo. Apalagi dengan munculnya berbagai aplikasi investasi yang super gampang diakses, cuma butuh modal seblak dan kuota internet, eh, udah bisa jadi investor.

Tapi, pernah nggak sih lo berhenti sejenak dan nanya ke diri sendiri, “Gue beneran ngerti nggak sih sama yang gue lakuin? Atau jangan-jangan cuma ikut-ikutan biar kelihatan keren?”

Nah, di artikel ini, kita bakal ngobrol santai tapi serius soal bahayanya ikut-ikutan tren investasi tanpa bekal pengetahuan yang cukup. Siap?

Kenapa Ikut-ikutan Tren Investasi Itu Berbahaya?

Bayangin deh, lo lagi asyik scroll TikTok, terus nemu video soal “saham A” yang katanya bakal “to the moon”. Tanpa pikir panjang, lo langsung buka aplikasi trading dan borong saham itu. Seminggu pertama, cuan. Lo seneng banget. Tapi, minggu kedua, harganya anjlok parah. Lo panik, jual rugi, dan akhirnya cuma bisa meratapi nasib sambil makan Indomie akhir bulan.

Itulah risiko paling umum dari investasi ikut-ikutan, atau yang sering disebut FOMO (Fear of Missing Out). Lo takut ketinggalan kereta, jadi langsung lompat tanpa tahu tujuannya ke mana. Padahal, di dunia investasi, keputusan impulsif itu musuh terbesar.

Berikut beberapa bahaya lain dari investasi latah:

  • Beli di Harga Pucuk, Jual di Harga Murah: Ini penyakit klasik. Lo masuk pas harga lagi tinggi-tingginya karena semua orang lagi ngomongin, dan panik jual pas harga mulai turun. Hasilnya? Rugi, bukan untung.
  • Nggak Sesuai Profil Risiko: Setiap orang punya tingkat toleransi risiko yang beda-beda. Ada yang tipe “main aman”, ada juga yang “berani mati”. Kalau lo yang tipenya konservatif tapi maksa investasi di aset high-risk kayak crypto cuma karena lagi tren, bisa-bisa lo stres sendiri lihat harganya naik turun kayak roller coaster.
  • Gampang Kena Tipu: Tren sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum nggak bertanggung jawab buat nawarin investasi bodong. Iming-iming keuntungan nggak masuk akal dalam waktu singkat itu red flag terbesar. Ingat, high return, high risk. Kalau ada yang nawarin high return, no risk, itu udah pasti bohong.

Ciri-ciri Kamu Cuma Ikut-ikutan

Coba deh, cek beberapa poin di bawah ini. Kalau lo merasa “ini gue banget”, mungkin udah saatnya buat introspeksi.

  1. Nggak Tahu Apa yang Dibeli: Lo beli saham perusahaan X, tapi nggak tahu perusahaan itu bisnisnya apa, keuangannya sehat atau nggak, prospeknya gimana. Yang penting, “kata orang” bagus.
  2. Panik Pas Pasar Merah: Begitu lihat portofolio minus dikit, langsung keringat dingin dan pengen jual semua. Ini tanda lo nggak punya keyakinan sama aset yang lo pegang.
  3. Tujuan Investasi Nggak Jelas: Lo investasi buat apa? Buat nikah? Beli rumah? Dana pensiun? Atau cuma buat pamer di Instagram? Tanpa tujuan yang jelas, lo bakal gampang goyah sama tren sesaat.
  4. Sumber Info Cuma dari “Influencer”: Lo lebih percaya kata influencer saham daripada baca laporan keuangan perusahaan. Padahal, nggak semua influencer itu punya kualifikasi dan niat baik.

Tips Cerdas Biar Nggak Jadi Korban Tren

Oke, terus gimana dong caranya biar jadi investor cerdas, bukan investor latah? Gampang, kok. Coba deh, terapkan beberapa tips ini:

  • Pahami Dulu, Baru Beli Kemudian (Do Your Own Research/DYOR): Ini aturan nomor satu. Sebelum lo keluarin duit, luangin waktu buat riset. Pelajari fundamental asetnya, baca berita, analisis prospeknya. Jangan malas! Anggap aja kayak lagi stalking gebetan, cari tahu seluk-beluknya sampai ke akar-akarnya.
  • Kenali Profil Risiko Lo: Lo tipe yang mana? Konservatif, moderat, atau agresif? Jujur sama diri sendiri. Ada banyak kok kuis online gratis buat bantu nentuin profil risiko lo. Setelah tahu, pilih instrumen investasi yang sesuai.
  • Diversifikasi itu Wajib: Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Sebarin investasi lo ke beberapa instrumen yang beda, misalnya reksa dana, saham, obligasi, atau emas. Jadi, kalau satu lagi anjlok, yang lain bisa menopang.
  • Investasi buat Jangka Panjang: Lupakan soal “cepat kaya”. Investasi itu maraton, bukan sprint. Fokus pada tujuan jangka panjang lo dan sabar. Biarin waktu dan bunga majemuk bekerja buat lo.
  • Mulai dari yang Kecil: Nggak perlu nunggu punya duit puluhan juta buat mulai investasi. Sekarang, dengan Rp100.000 aja udah bisa beli reksa dana atau saham. Mulai dari yang kecil, yang penting konsisten.

Kesimpulan

Ikut perkembangan tren itu boleh, tapi jangan sampai tren yang ngendaliin keputusan finansial lo. Investasi itu perjalanan personal, bukan ajang balapan sama orang lain. Daripada sibuk ngejar apa yang lagi viral, lebih baik fokus bangun fondasi pengetahuan finansial yang kuat.

Ingat, investor cerdas itu bukan yang paling banyak cuan dalam semalam, tapi yang bisa tetap tenang dan membuat keputusan rasional di tengah gejolak pasar. Jadi, udah siap jadi investor cerdas?

Ada pertanyaan soal artikel ini?

Tanya langsung ke CuanBot, mentor finansial kamu!